Selasa, 23 Juni 2009
”Kalau punya uang satu miliar, mau dipake apa?” tanya dosenku yang paling nyeleneh, Koko, lulusan desain grafis ITB.
”Mau bikin kos-kosan?” jawabku, lugu.
”Yaa... itumah biasa. Orang tua jaman dulu juga pastinnya mikir kaya gitu.” Ia menatapku. ”Coba rubah pola pikirnya. Yang.. kreatif, lebih imajinatif. Pecahkan tembok paradigma.”
”Mm.. bikin perusahaan pembuatan animasi kaya Walt Disney kali,” jawabku, asal
”Mm.. Walt Disney ya. Boleh juga. Animasi yang kaya gimana? Dua dimensi atau tiga dimensi?”
”Bedanya dua dimensi sama tiga dimensi apaan si?” tanyaku super lugu.
”Ahahahaha... intan.. intan... gimana mau bikin animasi, bedanya dua dimensi dan tiga dimensi aja gak tahu...”
Wajahku bersemu merah. Malu la yau!
”Kalau bikin animasi itu butuh banyak ilustrator loh. Walt Disney yang mengerahkan ribuan penggambar aja butuh waktu satu tahun untuk membuat satu film animasi. Dengan proyek sebesar itu, apa uang satu miliar cukup?” tanyanya setelah memberitahu perbedaan 2D vs 3D.
”Engga kali ya?” jawabku masih asal.
”Kalau Intan mau bikin perusahaan pembuat animasi, bentuk perusahaannya kaya gimana?” tanyanya lagi, tersenyum melihat aku yang kebingungan.
”Duh, gak tau. Masih belum kebayang.”
“Yaa… imaninasinya dipake donk. Bikin bangunan aja perlu dibuat sketsa imanjinasinya di otak. Bikin perusahaan juga, perlu diimajinasiin dulu. Mau seperti apa perusahaan kita kedepannya nanti.”
Aku mengangguk meski belum paham. Dikemudian hari barulah aku tahu, ilmu yang ia ajarkan sama seperti nasehat Napoleon Hill dalam buku Think To Rich.
”Mungkin karena terlalu lama di Indonesia kali ya. Jadi tembok paradigma hasil pendidikan di masyarakatnya masih ada,” ujarnya, calm, seolah ia bukan warga Indonesia. ”Mm.. sekarang coba kita pecahkan tembok paradigma yang ada dikepala kamu dulu. Aku mau ajarkan sesuatu yang bernama, kreatifitas” ucapnya mencari-cari kertas dan alat tulis. ”Aku kasih kamu waktu lima menit, bikin sesuatu yang berhubungan dengan hitam..”
Aku menggambar lampu.
”Ada yang lebih kreatif? Sesuatu yang berbeda?”
Aku menggambar rok
“Apaan nih?” tanyanya heran, menanyakan gambar segitiga yang atasnya tak lancip.
“Rok,” jawabku lugu.
“Apa hubungannya rok dengan hitam?” tanyanya heran
“Roknya berwarna hitam,” jawabku, polos.
“Ahahaha…. Intan.. intan.. kan gak semua orang tahu kalau rok itu berwarna hitam. Coba sini aku yang gambar.” Ia menggambar drakula. ”Lihat. Princes of Dark. Pangeran kegelapan. Hitam!”
“Mm…,” komentarku, kagum.
“Think out the boxes and you will find something.”
Pelajaran yang unik. Dari hasil didikannya, karya tulisku yang suatu saat akan aku buat animasi, mendapat pujian ibu Tiana, Dosen Sastra Unida. ”Bagus mba intan. Kemajuan mba intan pesat banget. Dari murid-murid saya, baru mba intan aja yang akhirnya menghasilkan karya. Saya bangga banget sama mba Intan.” Aku tersenyum. Tapi, itu baru permulaan. Karya-karya selanjutnya akan lebih fantastis dan menakjubkan! Bisnis imajinasiku, akan segera mencuat ke permukaan.
(Kyaa! Narsis! Gak apa-apa, buat penyemangant. Haha.)
Tanks a lot brother for your lesson.
(Semua link yang ada di posting ini memiliki tautan dengan pengurus blog –intan permata- baik Propsal Kehidupan, Rumah Zakat Indonesia, Rumah Aqiqah, K-link, Flexter, Ponsel Quran, Batik Solo, maupun bisnis salah satu dosenku –Andi-. Jika ada yang merasa tertarik atau ingin menanyakan lebih lanjut mengenai content link yang bersangkutan, hubungi aku di 0251-9326592 email: boulengs_id@yahoo.com)
”Mau bikin kos-kosan?” jawabku, lugu.
”Yaa... itumah biasa. Orang tua jaman dulu juga pastinnya mikir kaya gitu.” Ia menatapku. ”Coba rubah pola pikirnya. Yang.. kreatif, lebih imajinatif. Pecahkan tembok paradigma.”
”Mm.. bikin perusahaan pembuatan animasi kaya Walt Disney kali,” jawabku, asal
”Mm.. Walt Disney ya. Boleh juga. Animasi yang kaya gimana? Dua dimensi atau tiga dimensi?”
”Bedanya dua dimensi sama tiga dimensi apaan si?” tanyaku super lugu.
”Ahahahaha... intan.. intan... gimana mau bikin animasi, bedanya dua dimensi dan tiga dimensi aja gak tahu...”
Wajahku bersemu merah. Malu la yau!
”Kalau bikin animasi itu butuh banyak ilustrator loh. Walt Disney yang mengerahkan ribuan penggambar aja butuh waktu satu tahun untuk membuat satu film animasi. Dengan proyek sebesar itu, apa uang satu miliar cukup?” tanyanya setelah memberitahu perbedaan 2D vs 3D.
”Engga kali ya?” jawabku masih asal.
”Kalau Intan mau bikin perusahaan pembuat animasi, bentuk perusahaannya kaya gimana?” tanyanya lagi, tersenyum melihat aku yang kebingungan.
”Duh, gak tau. Masih belum kebayang.”
“Yaa… imaninasinya dipake donk. Bikin bangunan aja perlu dibuat sketsa imanjinasinya di otak. Bikin perusahaan juga, perlu diimajinasiin dulu. Mau seperti apa perusahaan kita kedepannya nanti.”
Aku mengangguk meski belum paham. Dikemudian hari barulah aku tahu, ilmu yang ia ajarkan sama seperti nasehat Napoleon Hill dalam buku Think To Rich.
”Mungkin karena terlalu lama di Indonesia kali ya. Jadi tembok paradigma hasil pendidikan di masyarakatnya masih ada,” ujarnya, calm, seolah ia bukan warga Indonesia. ”Mm.. sekarang coba kita pecahkan tembok paradigma yang ada dikepala kamu dulu. Aku mau ajarkan sesuatu yang bernama, kreatifitas” ucapnya mencari-cari kertas dan alat tulis. ”Aku kasih kamu waktu lima menit, bikin sesuatu yang berhubungan dengan hitam..”
Aku menggambar lampu.
”Ada yang lebih kreatif? Sesuatu yang berbeda?”
Aku menggambar rok
“Apaan nih?” tanyanya heran, menanyakan gambar segitiga yang atasnya tak lancip.
“Rok,” jawabku lugu.
“Apa hubungannya rok dengan hitam?” tanyanya heran
“Roknya berwarna hitam,” jawabku, polos.
“Ahahaha…. Intan.. intan.. kan gak semua orang tahu kalau rok itu berwarna hitam. Coba sini aku yang gambar.” Ia menggambar drakula. ”Lihat. Princes of Dark. Pangeran kegelapan. Hitam!”
“Mm…,” komentarku, kagum.
“Think out the boxes and you will find something.”
Pelajaran yang unik. Dari hasil didikannya, karya tulisku yang suatu saat akan aku buat animasi, mendapat pujian ibu Tiana, Dosen Sastra Unida. ”Bagus mba intan. Kemajuan mba intan pesat banget. Dari murid-murid saya, baru mba intan aja yang akhirnya menghasilkan karya. Saya bangga banget sama mba Intan.” Aku tersenyum. Tapi, itu baru permulaan. Karya-karya selanjutnya akan lebih fantastis dan menakjubkan! Bisnis imajinasiku, akan segera mencuat ke permukaan.
(Kyaa! Narsis! Gak apa-apa, buat penyemangant. Haha.)
Tanks a lot brother for your lesson.
(Semua link yang ada di posting ini memiliki tautan dengan pengurus blog –intan permata- baik Propsal Kehidupan, Rumah Zakat Indonesia, Rumah Aqiqah, K-link, Flexter, Ponsel Quran, Batik Solo, maupun bisnis salah satu dosenku –Andi-. Jika ada yang merasa tertarik atau ingin menanyakan lebih lanjut mengenai content link yang bersangkutan, hubungi aku di 0251-9326592 email: boulengs_id@yahoo.com)
2 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)





siip!!!