Minggu, 28 Juni 2009
“Mei 5 juta. Juni 10 juta. Juli 20 juta,” aku menuliskan target-target angka yang ingin dicapai sesuai buku petunjuk pembuatan proposal kehidupan.
Tapi, kalau udah punya uang sebanyak itu, mau dipake buat apa?
Makan satu porsi, paket 5 ribu aja udah cukup menuhin perut. Ongkos... sebulan paling abis berapa sih.
”Permasalahan keuangan sebenarnya bukan hanya kekurangan uang. Ada lagi permasalahan yang satunya lagi. KELEBIHAN UANG,” ujar Pa Sugeng, Dosenku dari Rumah Zakat Indonesia, saat kami bercakap-cakap ringan di kantor.
Aku tersenyum geli. Kedengarannya seperti lelucon. Tapi, aku mengenal banyak orang dalam K-link yang mengalami permasalahan “KELEBIHAN UANG.” Hingga ada kelakar diantara mereka, ”salah sendiri kenapa masuk K-Link. Hahaha...”
”Aku tuh berbisnis pengennya untuk memberdayakan orang-orang termarginalkan. Kaya Muhammad Yunus pemilik Bank Garment. Tau gak In?” ujar Andi, dosenku yang lain di suatu waktu saat aku sedang mencari inspirasi untuk menulis. Aku tersenyum. Orang seperti itu-tu yang ketika kaya gak akan begitu pusing dengan masalahan “KELEBIHAN UANG”.
“Tan, bantuin bikin skripsi gue atuh, tentang resiliesi faktor berhutang pada ibu rumah tangga” ujar temanku yang bahan skripsinya menjadi dosen kehidupan bisnisku secara tidak langsung. Dalam skripsi itu, diantaranya dituliskan beberapa obyek wawancara yang semula amat berlebih seketika, ingat, SEKETIKA, terbelit hutang karena beragam hal.
Hipotesa: Uang memang memiliki dua sisi. Kekurangan uang vs kelebihan uang. Keduanya dapat menjadi masalah bagi yang belum siap. Tapi, Transformer (perubahan kilat) dari salah satu sisi ke sisi lainnya, lebih bermasalah (bagi yang belum siap)!
Lalu, bagaimana solusi dari kedua sisi uang dan transformer yang begitu mendadak?
Seperti biasa, iseng-iseng aku buka petunjuk yang Rabb-ku kirim lewat perantara toko buku. Jiah! Canda, perantara Rosul yang dicetak dan diperjual belikan oleh toko buku.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal soleh yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS 18:46)
“Orang muslim itu mesti kaya! Bukan berarti kekayaan yang diincar. Tapi agar bisa lebih banyak melakukan amal soleh,” nasehat bapak tua dalam sebuah ceramah.
Yah, kini aku tahu. Bisnis itu… memberi. Bisnis dibangun untuk banyak memberi. Memberi kebaikan dan kemanfaatan untuk sesama
(Semua link yang ada di posting ini memiliki tautan dengan pengurus blog –intan permata- baik Propsal Kehidupan, Rumah Zakat Indonesia, Rumah Aqiqah, K-link, Flexter, Ponsel Quran, Batik Solo, maupun bisnis salah satu dosenku –Andi-. Jika ada yang merasa tertarik atau ingin menanyakan lebih lanjut mengenai content link yang bersangkutan, hubungi aku di 0251-9326592 email: boulengs_id@yahoo.com)
Tapi, kalau udah punya uang sebanyak itu, mau dipake buat apa?
Makan satu porsi, paket 5 ribu aja udah cukup menuhin perut. Ongkos... sebulan paling abis berapa sih.
”Permasalahan keuangan sebenarnya bukan hanya kekurangan uang. Ada lagi permasalahan yang satunya lagi. KELEBIHAN UANG,” ujar Pa Sugeng, Dosenku dari Rumah Zakat Indonesia, saat kami bercakap-cakap ringan di kantor.
Aku tersenyum geli. Kedengarannya seperti lelucon. Tapi, aku mengenal banyak orang dalam K-link yang mengalami permasalahan “KELEBIHAN UANG.” Hingga ada kelakar diantara mereka, ”salah sendiri kenapa masuk K-Link. Hahaha...”
”Aku tuh berbisnis pengennya untuk memberdayakan orang-orang termarginalkan. Kaya Muhammad Yunus pemilik Bank Garment. Tau gak In?” ujar Andi, dosenku yang lain di suatu waktu saat aku sedang mencari inspirasi untuk menulis. Aku tersenyum. Orang seperti itu-tu yang ketika kaya gak akan begitu pusing dengan masalahan “KELEBIHAN UANG”.
“Tan, bantuin bikin skripsi gue atuh, tentang resiliesi faktor berhutang pada ibu rumah tangga” ujar temanku yang bahan skripsinya menjadi dosen kehidupan bisnisku secara tidak langsung. Dalam skripsi itu, diantaranya dituliskan beberapa obyek wawancara yang semula amat berlebih seketika, ingat, SEKETIKA, terbelit hutang karena beragam hal.
Hipotesa: Uang memang memiliki dua sisi. Kekurangan uang vs kelebihan uang. Keduanya dapat menjadi masalah bagi yang belum siap. Tapi, Transformer (perubahan kilat) dari salah satu sisi ke sisi lainnya, lebih bermasalah (bagi yang belum siap)!
Lalu, bagaimana solusi dari kedua sisi uang dan transformer yang begitu mendadak?
Seperti biasa, iseng-iseng aku buka petunjuk yang Rabb-ku kirim lewat perantara toko buku. Jiah! Canda, perantara Rosul yang dicetak dan diperjual belikan oleh toko buku.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal soleh yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS 18:46)
“Orang muslim itu mesti kaya! Bukan berarti kekayaan yang diincar. Tapi agar bisa lebih banyak melakukan amal soleh,” nasehat bapak tua dalam sebuah ceramah.
Yah, kini aku tahu. Bisnis itu… memberi. Bisnis dibangun untuk banyak memberi. Memberi kebaikan dan kemanfaatan untuk sesama
(Semua link yang ada di posting ini memiliki tautan dengan pengurus blog –intan permata- baik Propsal Kehidupan, Rumah Zakat Indonesia, Rumah Aqiqah, K-link, Flexter, Ponsel Quran, Batik Solo, maupun bisnis salah satu dosenku –Andi-. Jika ada yang merasa tertarik atau ingin menanyakan lebih lanjut mengenai content link yang bersangkutan, hubungi aku di 0251-9326592 email: boulengs_id@yahoo.com)
1 Comment:
-
- afri hendra said...
30 Juni 2009 pukul 19.51Luar Biasa
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




